Mode Demo — Aqidatul awam · hasil tidak disimpan
Soal 1 / 21 · Pilihan Ganda

Dalam memahami sifat Iradah (Kehendak) Allah, ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah (Asy'ariyah) menegaskan perbedaan penting antara Iradah (Kehendak), Amr (Perintah), dan Ridha (Keridhaan). Berdasarkan konsep ini, bagaimana kita menganalisis terjadinya kekufuran pada diri Abu Lahab?

Soal 2 / 21 · Pilihan Ganda

Perkembangan sains modern menjelaskan bahwa pendengaran manusia terjadi melalui getaran gelombang suara yang merambat lewat medium udara dan ditangkap oleh gendang telinga. Ketika seorang santri mempelajari sifat Sama' (Mendengar) bagi Allah, analisis teologis yang paling tepat untuk menghindari pemahaman tashbih (penyerupaan) adalah...

Soal 3 / 21 · Pilihan Ganda

Jika kita mengasumsikan secara mustahil bahwa Allah memiliki sifat yang serupa dengan makhluk (Mumatstsalat lil hawaditsi), konsekuensi logis-rasional yang akan merusak tatanan teologi Islam adalah...

Soal 4 / 21 · Pilihan Ganda

Seorang santri berdiskusi tentang konsep takdir. Temannya berpendapat: 'Jika Allah memiliki sifat Iradah (Berkehendak) yang mutlak dan menentukan segala hal sejak azali, maka usaha manusia (ikhtiar) sama sekali tidak memiliki fungsi dan manusia bagaikan wayang yang dipaksa.' Bagaimana rekonstruksi teologis Ahlussunnah wal Jama'ah (Asy'ariyah) yang paling tepat untuk menyanggah fatalisme (Jabariyah) tersebut dengan tetap menjaga kemutlakan Iradah Allah?

Soal 5 / 21 · Pilihan Ganda

Sifat Wahdaniyah (Maha Esa) wajib bagi Allah, yang meliputi Esa dalam Zat, Sifat, dan Af'al (perbuatan). Dalam kehidupan sehari-hari, jika seorang muslim meyakini bahwa obat secara mandiri memiliki daya sembuh alami yang mutlak tanpa campur tangan Allah, bagaimana pandangan tauhid Asy'ariyah terhadap keyakinan tersebut dikaitkan dengan Wahdaniyah fil Af'al?

Soal 6 / 21 · Pilihan Ganda

Jika Allah sudah memiliki sifat 'Ilmu yang mengetahui segala sesuatu (baik yang wajib, jaiz, maupun mustahil), mengapa akal dan syara' tetap mewajibkan adanya sifat Sama' (Mendengar) dan Bashar (Melihat) bagi Allah? Analisis perbedaan ta'alluq yang paling tepat adalah...

Soal 7 / 21 · Pilihan Ganda

Ketika kita mengamati sebatang pohon yang tumbuh dengan tinggi dan bentuk tertentu, secara teologis hal ini melibatkan ta'alluq (keterkaitan) dari sifat Qudrah dan Iradah Allah. Manakah analisis yang paling tepat mengenai hubungan fungsi kedua sifat tersebut dalam mewujudkan pohon tersebut?

Soal 8 / 21 · Pilihan Ganda

Sifat-sifat Salbiyah seperti Qidam, Baqa', Mukhalafah, Qiyamuhu Binafsihi, dan Wahdaniyah sering disalahpahami sebagai sifat positif-eksistensial yang menambah zat. Secara epistemologis dalam Ilmu Kalam, fungsi utama dari perumusan Sifat Salbiyah pada Zat Allah adalah...

Soal 9 / 21 · Pilihan Ganda

Memahami sifat Qidam (Terdahulu tanpa awal) secara logis meniscayakan sifat Baqa' (Kekal tanpa akhir). Mengapa secara akal (rasional), sesuatu yang terbukti bersifat Qadim tidak mungkin mengalami fana' (kebinasaan/ketiadaan di masa depan)?

Soal 10 / 21 · Pilihan Ganda

Dalam sistematika tauhid, sifat wajib Allah dikelompokkan menjadi Nafsiyah, Salbiyah, Ma'ani, dan Ma'nawiyah. Dari sudut pandang ontologis (hakikat keberadaan sifat), apa perbedaan mendasar antara kelompok Sifat Salbiyah (seperti Qidam, Baqa') dengan Sifat Ma'ani (seperti Qudrah, Iradah)?

Soal 11 / 21 · Pilihan Ganda

Sifat Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri Sendiri) secara rasional menolak adanya 'Mujiid' (pencipta) dan 'Mahall' (tempat/subjek). Jika diasumsikan Allah membutuhkan 'Mahall' untuk eksis, konsekuensi logis teologis yang merusak status ketuhanan-Nya adalah...

Soal 12 / 21 · Pilihan Ganda

Sifat 'Ilmu Allah bertalluq (berhubungan) dengan segala hal yang wajib, jaiz, dan mustahil secara 'Inkisyaf' (menyingkap segala sesuatu tanpa ada yang tersembunyi). Jika ada anggapan bahwa Allah baru mengetahui suatu peristiwa setelah peristiwa itu terjadi (dikenal sebagai konsep Bada' dalam beberapa sekte menyimpang), implikasi logis merusak apa yang akan terjadi pada sifat wajib Allah yang lain?

Soal 13 / 21 · Pilihan Ganda

Seorang santri membaca ayat 'Ar-Rahmanu 'alal 'arsyi-stawa' (QS. Taha: 5). Agar tidak terjatuh pada pemahaman tajsim (menyerupakan Allah dengan makhluk fisik) yang bertentangan dengan sifat Mukhalafatuhu lil hawaditsi, sikap metodologis terbaik yang harus diambil sesuai manhaj Ahlus Sunnah wal Jama'ah (Asy'ariyah) adalah...

Soal 14 / 21 · Pilihan Ganda

Al-Qur'an menyebutkan istilah fisik seperti 'Tangan Allah' (Yadullah) dalam QS. Al-Fath: 10. Berdasarkan pemahaman sifat wajib Mukhalafatuhu lil hawaditsi, bagaimana metode Tafwid (yang dianut mayoritas ulama Salaf) dalam menyikapi ayat tersebut?

Soal 15 / 21 · Pilihan Ganda

Sebagian orientalis atau kalangan skeptis sering mengajukan pertanyaan retoris: "Apakah Allah mampu menciptakan sebuah batu yang sangat besar sehingga Dia sendiri tidak mampu mengangkatnya?" Secara teologis (Ilmu Kalam), jawaban yang tepat untuk mematahkan syubhat ini berdasarkan konsep ta'alluq sifat Qudrah adalah...

Soal 16 / 21 · Pilihan Ganda

Dalam kajian sifat Ma'ani, sifat Hayat (Hidup) memiliki karakteristik yang berbeda secara mendasar dari sifat Qudrah, Iradah, dan 'Ilmu. Perbedaan mendasar tersebut terletak pada...

Soal 17 / 21 · Pilihan Ganda

Seorang petani madrasah mengairi sawahnya dengan tekun, namun terjadi kekeringan hebat yang menyebabkan gagal panen. Ia kemudian merenungkan sifat Qudrat dan Iradat Allah. Pemahaman tauhid yang paling tepat dan mendalam bagi petani tersebut agar terhindar dari paham Jabariyah (fatalisme) maupun Qadariyah (kebebasan mutlak) adalah...

Soal 18 / 21 · Pilihan Ganda

Mengapa ulama Asy'ariyah menetapkan adanya Sifat Ma'nawiyah (seperti Qadiran, Muridan) setelah menetapkan Sifat Ma'ani (seperti Qudrat, Iradat)? Analisis logis yang mendasari hubungan kedua kategori sifat ini adalah...

Soal 19 / 21 · Pilihan Ganda

Dalam kajian Aqidah, sifat Kalam Allah dibedakan menjadi Kalam Nafsi dan Kalam Lafzhi. Ketika seorang santri membaca Al-Qur'an dari mushaf kertas, analisis teologis yang tepat mengenai aktivitas tersebut dikaitkan dengan sifat Kalam Allah adalah...

Soal 20 / 21 · Pilihan Ganda

Dalam teologi Islam (Ilmu Kalam), argumentasi kosmologis sering digunakan untuk membuktikan eksistensi Allah. Jika diasumsikan bahwa Allah membutuhkan entitas lain untuk mewujudkan-Nya, maka akan terjadi 'tasalsul' (mata rantai pencipta yang tiada ujung) atau 'daur' (penciptaan yang saling berputar melingkar), yang keduanya mustahil secara akal. Sifat wajib Allah yang secara langsung mematahkan asumsi kemustahilan 'tasalsul' dan 'daur' ini adalah...

Soal 21 / 21 · Pilihan Ganda

Kitab-kitab tauhid sering menjelaskan 'Burhan al-Tamanu'' (dalil saling menolak) untuk membuktikan sifat Wahdaniyah Allah. Jika diasumsikan ada dua tuhan yang setara, dan Tuhan A ingin menggerakkan sebuah batu sedangkan Tuhan B ingin mendiamkannya, konsekuensi logis yang membuktikan kemustahilan adanya dua tuhan tersebut adalah...